Home » , , , , , , » Waspadai Propaganda Komunitas LGBT

Waspadai Propaganda Komunitas LGBT

Posted by Alnindo News on Selasa, 16 Februari 2016

ALNews - Dalam sistem demokrasi yang dianut Indonesia, jumlah menjadi suatu perihal yang penting. Sehingga perlu diwaspadai adanya propaganda dilakukan secara massif dan sistematis agar jumlah komunitas LGBT dan para penyokong secara statistik semakin besar sehingga diperhitungkan dari segi populasi.

Propaganda secara masif mereka lakukan melalui berbagai media baik yang konvensional maupun non kovensional, mulai dari buku, musik, film, tayangan TV, internet, media sosial, aplikasi chatting/percakapan dan lainnya. LGBT bukan lagi sebatas prilaku individu, namun sudah menjelaskan menjadi sebuah gerakan masif yang terorganisir.

Adanya indikasi kuat secara bertahap gerakan LGBT ingin mengubah tatanan sosial di Indonesia.

Targetnya, merubah Indonesia saat ini menjadi seperti negara-negara lain yang telah melegalkan LGBT, seperti kondisi di Filipina dimana LGBT bebas berpropaganda karena mendapat dukungan luas dari berbagai elemen mulai dari civil society, intelektual, law maker, aktivis, ormas, kampus, hingga tokoh dan lembaga keagamaan. Kemudian bisa seperti Vietnam di mana pernikahan sesama jenis dibolehkan walau tidak tercatat dalam catatan sipil, dan ending-nya seperti di Amerika dan 20-an negara lainnya yang melegalkan pernikahan sesama jenis dan secara hukum, sosial, budaya, agama, LGBT tidak dipersoalkan lagi.

Fahira mengatakan, " yang sempat menangani aduan adanya propaganda LGBT langsung ke sekolah-sekolah dengan tameng edukasi dan komik remaja berisi percintan sejenis, menilai propoganda LGBT di kalangan anak dan remaja telah melanggar hak-hak asasi anak dan UU Perlindungan anak yang menjamin anak untuk tumbuh kembang secara wajar dan alamiah. Jika propaganda kepada anak terus dilakukan, maka ada konsekuensi hukum bagi pelaku propaganda LGBT. "

banyak orang menjadi same sex attraction terbesar karena pemaksaan mengambil role model (utamanya peran ibu), yang banyak terjadi misalnya kasus keluarga broken home, over protektif atau anak terlalu manja/ dilindungi, dan terjadi pada anak yang tidak mendapat perhatian dari kedua orangtua, serta terakhir faktor trauma jiwa akibat pelecehan seksual (sodomi) sewaktu kecil, yang diyakini sebagai faktor penguat kecenderungan yang sudah terbangun oleh lingkungan.

"Hak Anda para LGBT mendeklarasikan orientasi seksual Anda ke muka umum. Tetapi jangan coba-coba berniat menuntut dan memaksa kami dan anak-anak kami juga memberi tolerensi terhadap gerakan yang mencoba mengubah pandangan agama, tatanan sosial, etika, norma dan nilai-nilai budaya Indonesia untuk beradaptasi atas ke LGBT-an Anda. Karena kami akan 'lawan'," Tegasnya.

Keberadaan LGBT dan propagandanya harus disikapi lebih bijak oleh masyarakat Indonesia dan tidak menjadikan kekerasan sebagai cara penolakan (sikap). Pemerintah juga diharuskan punya konsep yang tegas terkait LGBT sehingga di lapangan tidak terjadi benturan.

"Secara pribadi, saya tidak mempersoalkan keberadaan LGBT dan menolak segala macam kekerasan kepada mereka. Yang saya tidak terima adalah aksi propaganda mempromosikan LGBT dengan pesan utama 'mencintai sesama jenis' dan 'perilaku seks menyimpang adalah hal yang wajar'. Terlebih propaganda ini sangat gencar menyasar kalangan anak dan remaja," ujar Fahira di Komplek Parlemen Senayan Jakarta (15/2).

"Banyak dari mereka para Ex.LGBT yang ingin move on dan hijrah kembali kepada fitrahnya. kendalanya banyak dari mereka yang tidak punya tempat curhat yang tepat dan terus dibombardir propaganda bahwa apa yang terjadi pada mereka adalah hal yang biasa saja.

Untuk menindak lanjuti hal tersebut, Pemerintah harus paham hal ini dan memfasilitasi mereka yang ingin move on. Jangan tidak ada inisiatif sama sekali," ujar Ketua Yayasan Anak Bangsa Berdaya dan Mandiri ini.


Thanks for reading & sharing Alnindo News

Previous
« Prev Post

Advertisement

alnindo electronics