Home » , , , , , , » MA hukum mati 8 Orang yang melakukan Jejak Kejahatan Luar Biasa

MA hukum mati 8 Orang yang melakukan Jejak Kejahatan Luar Biasa

Posted by Alnindo News on Jumat, 18 Maret 2016

ALNews - Jakarta, Mahkamah Agung (MA) menambah antrean orang untuk dieksekusi mati karena kejahatan luar biasa. Di awal tahun, sedikitnya MA sudah menjatuhkan 8 hukuman mati di kasus narkotika.

Berikut sekelumit jejak kedelapan orang tersebut,

1. Ramlan Siregar

Ramlan merupakan anggota sekawanan gembong narkoba dengan bukti saat ditangkap didapati 25 Kg sabu dan 30 ribu butir ekstasi. Komplotan ini ditangkap oleh Polresta Medan di Jalan Sei Batang Hari, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, September 2014 lalu.

Selain Ramlan, ditangkap pula Amri Prayoga dan Rahmat Suwito. Ketiganya lalu diadili dalam berkas terpisah. Awalnya Ramlan dipenjara seumur hidup Pengadilan Negeri (PN) Medan dan dikuatkan di tingkat banding.

Melihat fakta kejahatan tersebut, MA mengetok palu dengan keras dan mengubah vonis ini berubah di tingkat kasasi menjadi hukuman mati sebagaimana tuntutan jaksa. Pada sidang yang digelar pada 26 Februari 2016 itu, duduk sebagai ketua majelis hakim agung Prof Dr Surya Jaya dengan anggota hakim agung Margono dan hakim agung MD Pasaribu.

2. WN Nigeria, Simon

Simon adalah penghuni LP Cipinang untuk menjalani masa pemidanaan selaam 20 tahun. Ia dihukum di kasus narkoba. Tapi baru beberapa bulan meringkuk di penjara, Simon mtidak insaf dan terus menggerakan anak buahnya di luar penjara untuk mengedarkan narkoba. BNN pun menangkap kembali Simon dengan bukti 300 gram sabu dan diseret ke pengadilan untuk kedua kalinya.

Pada awal 2015, Pengadilan Negeri (PN) Tangerang menjatuhkan hukuman mati kepada Simon. Vonis mati itu dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Banten. Atas hukuman ini, pemilik nama lengkap Simon Ikechukwu Ezeaputa alias Nick Alias Ike Chukung alias Nick Horrison kemudian mengajukan kasasi. Simon harus berhadapan dengan hakim agung Prof Dr Surya Jaya. Sang guru besar pidana Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar itu pun tak memberikan maaf ke Simon dan tetap menjatuhkan hukuman mati.

3. WN Taiwan, Chen Jia Wei
4. WN Taiwan, Lo Chin Chen
5. WN Taiwan, Wang Ang Kang

Tiga sekawan di atas merupakan kurir internasional. Mereka membawa sabu dari Hong Kong yang dililitkan ke tubuh mereka dan satu orang mengawasinya. Dari Hong Kong mereka bertiga berangkat ke Jakarta pada awal Oktober 2014. Namun, gerak-gerik ketiga terdakwa dicurigai petugas dan dibekuklah ketiganya. Tanpa ampun, mereka digelandang ke pengadilan dan jaksa lalu mengajukan tuntutan mati.

Tapi pada 29 Juni 2015, PN Tangerang hanya menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada ketiganya. Atas vonis ini, jaksa banding tetapi hukuman tidak berubah. Jaksa lalu mengajukan upaya hukum pamungkas yaitu mengajukan kasasi dan dikabulkan.

Dalam sidang pada 20 Januari 2016, hakim agung Artidjo Alkostar dengan anggota hakim agung Sri Murwahyuni dan hakim agung Prof Surya Jaya menjatuhkan hukuman mati kepada ketiganya.

6. Amir

Dalam menjalankan aksinya, Amir bekerjasama dengan istrinya, Maemunah. Pasutri itu ditangkap oleh tim dari BNN di Desa Marawi, Kecamatan Tiroang, Kabupaten Pangkep pada September 2014. Ikut ditangkap pula kurir narkoba, Ilham. Dari tangkapan ini, aparat mengamankan 6,8 kg sabu. Sebelumnya, aparat juga mengamankan 9,4 kg sabu yang juga milik Amir-Maemunah.

Keduanya merupakan distributor jaringan narkoba di Sulawesi bagian barat dengan jalur Malaysia-Sulawesi-Jakarta.

Pada 21 Mei 2015, Pengadilan Negeri (PN) Pinrang menjatuhkan hukuman mati kepada keduanya. Atas vonis ini, Amir-Maimunah lalu mengajukan banding. Siapa nyana, majelis tinggi menganulir hukuman tersebut menjadi Amir dihukum 20 tahun penjara dan Maimunah dihukum 15 tahun penjara. Tidak terima dengan putusan ini, giliran jaksa yang mengajukan kasasi.

Pada 20 Januari 2016, hakim agung Salman Luthan dengan dua anggotanya menjatuhkan hukuman mati kepada Amir dan 20 tahun penjara kepada Maimunah. Maaf buat Maimunah karena mereka mempunyai anak sehingga apabila dimatikan pasutri itu maka nasib sang anak akan terlantar.

7. Tjia Sing Jang
8. Ong Beng An

Keduanya merupakan pengedar sabu dari Malaysia ke Indonesia. Tjia mendapatkan imbalan 10 juta per 1 kg sabu yang berhasil diedarkan. Saat Tjia bertransaksi dengan Ong, polisi menggerebek mereka berdua di sebuah hotel di Jakarta Utara. Dari tangan mereka didapati 22 kg sabu.
Pada 1 Juli 2015 Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar) menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara kepada keduanya. Jauh di bawah tuntutan mati yang diminta jaksa. Jaksa pun banding dan dikabulkan.

Pada September 2015, majelis tinggi yang terdiri dari Heru Mulyono Ilwan, Elnawisah dan Panusupan Harahap menjatuhkan hukuman mati sebagaimana tuntutan jaksa.

Giliran Tjia dan Ong yang mengajukan kasasi. Tapi usaha itu sia-sia belaka. MA menolak permohonan keduanya dalam perkara terpisah. Ong diadili hakim agung Artidjo Alkostar dengan anggota hakim agung Sri Murwahyuni dan Prof Dr Surya Jaya dan diketok pada pada 7 Maret 2016. Sedangkan Tjia diadili oleh ketua majelis hakim agung Andi Samsan Nganro dengan anggota hakim agung Margono dan hakim agung Eddy Army pada 10 Maret 2016.

Sayang, 8 ketokan mati ini tidak ditanggapi dengan sigap oleh Jaksa Agung sebagai eksekutor. Delapan nama itu juga menambah daftar panjang terpidana mati yang menanti eksekusi mati.

"Ya nanti kita lihat lah. Selama ini kita masih prioritaskan hal lain yang tentunya perlu diskalaprioritaskan, seperti perbaikan ekonomi," kata Jaksa Agung M Prasetyo pada Kamis (25/2) lalu.

Thanks for reading & sharing Alnindo News

Previous
« Prev Post

Advertisement

alnindo electronics