Home » , , , , , , , , , » Ini Beda Daging Sapi Segar, Beku, dan yang Dilayukan

Ini Beda Daging Sapi Segar, Beku, dan yang Dilayukan

Posted by Alnindo News on Sabtu, 11 Juni 2016

Berita Harian Online MAsakini - Info Kuliner, Daging sapi di pasaran ternyata tak hanya daging segar. Ada jenis daging sapi beku dan yang dilayukan. Apa bedanya?

Permintaan daging sapi saat ramadan cenderung meningkat. Meski begitu Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta harga daging sapi ditekan hingga Rp 80.000 per kilogram (kg). Karenanya Perum Bulog mendatangkan 300 ton daging sapi beku asal Australia kemarin (9/6).

Lalu bagaimana dengan kualitasnya? Apakah sama dengan daging segar? Sebelum membahas soal kualitas, perlu diketahui bagaimana proses penanganan daging sehingga dikategorikan daging beku, segar, atau justru yang dilayukan.

Chef Stefu Santoso, Executive Chef APREZ Catering & AMUZ Gourmet Restaurant menjelaskan perbedaan ketiga jenis daging tersebut. "Pada dasarnya daging segar adalah daging yang berasal dari proses pemotongan tetapi belum pernah dibekukan sama sekali," ujarnya (8/6).

Sementara daging beku merupakan daging yang setelah dipotong langsung dibekukan. "Atau bisa juga berupa daging segar yang sudah lewat usia penyimpanan kemudian dibekukan," tambah Chef Stefu.

Daging yang dilayukan sedikit berbeda karena penanganannya. Ia menjelaskan, "Setelah dipotong, daging dalam kondisi fresh didiamkan kurang lebih 21 hari dalam suhu 0 derajat celsius. Tujuannya membuat enzim bekerja sehingga daging jadi lebih empuk."

Hal senada juga dijelaskan Isye Iriani, Chief Representative Meat & Livestock Australia (MLA). ia menjelaskan proses pelayuan daging berlangsung dalam suhu 0 derajat celsius. Hanya saja, menurutnya, proses ini memakan waktu 7 hari saja

"Proses pelayuan daging itu sebenarnya pengempukkan alami. Karena setelah disembelih, daging hewan itu jadi kaku. Ketika dilayukan, maka ada enzim-enzim tertentu yang bekerja mengempukkan daging," tutur Isye.

Menurutnya pada pengolahan daging Australia terdapat proses berbeda. "Kalau di Indonesia kebanyakan daging dipotong malam hari, kemudian dijual pagi hari. Tidak ada proses pelayuan sehingga daging lokal cenderung lebih alot."

Pada daging Australia, dikenal istilah chill dan frozen. "Daging chill itu didinginkan tetapi tidak sampai frozen atau beku. Suhunya 0 sampai -2 derajat celsius sehingga bisa dibilang ini adalah pelayuan."

Isye menambahkan, "Sementara daging beku disimpan dibawah suhu lebih rendah. Sesaat setelah hewan disembelih dan potongan dagingnya sudah dibagi-bagi sesuai kategori, daging dimasukkan dalam mesin pembeku instan bernama blast freezer."

Menurutnya, daging yang diproduksi dalam skala besar seperti MLA tidak mungkin menjual daging segar langsung sesaat setelah dipotong. "Dibutuhkan proses chill atau frozen itu tadi. Tetapi bukan berarti daging ini tidak segar."

Chef Stefu menambahkan, "Daging yang dilayukan itu sama seperti daging segar. Mengenai yang ada di swalayan atau pasaran, sebenarnya daging segar dan daging yang dilayukan sulit dibedakan."

Chef ramah ini menginformasikan, "Satu-satunya cara mengetahui apakah daging itu segar atau sudah dilayukan adalah dengan
mengecek tanggal pemotongannya."

Mengenai kualitas, baik Chef Stefu dan Isye mengatakan daging segar lebih bagus dibanding daging beku. Begitu juga dengan daging yang sudah dilayukan dimana kualitasnya lebih baik dibanding daging beku. "Daging segar bagus untuk membuat bakso karena masih kenyal," jelas Chef Stefu.

Sementara itu, Isye menekankan pentingnya perencanaan. "Sebelum membeli daging hendaknya sudah tahu mau mengolahnya kapan. Kalau mau segera diolah, daging segar jadi pilihan terbaik. Sebaliknya, jika daging masih lama diolah, beli saja yang beku."

Meski begitu, Isye mengingatkan ada hal penting yang harus dilakukan saat menyiapkan daging beku. "Daging beku disimpan dalam freezer. Semalam sebelum diolah, daging harus di defrost dengan disimpan di kulkas bagian bawah," pungkasnya.

Thanks for reading & sharing Alnindo News

Previous
« Prev Post

Advertisement

alnindo electronics