Home » , , , , , , , , » Tips Penggunaan Obat Saat Puasa Ramadan

Tips Penggunaan Obat Saat Puasa Ramadan

Posted by Alnindo News on Kamis, 16 Juni 2016

Jakarta, Jika dilaksanakan dengan baik, puasa adalah sarana yang aman dan efektif untuk memaksimalkan kapasitas penyembuhan diri (self healing) dalam skenario terapi. 

Namun terapi yang melibatkan obat, memerlukan pengaturan pola konsumsi obat yang efektif sejalan dengan perubahan asupan nutrisi selama puasa. Karena perubahan pola konsumsi ini dapat mengubah farmakokinetik dan farmakodinamik obat, terutama untuk obat yang memiliki indeks terapi sempit, dan akibatnya mempengaruhi efektivitas pengobatan.

Dalam pertemuan yang mengupas pandangan Islam tentang masalah pengobatan kontemporer di Maroko pada Juni 1997, disepakati bahwa pemberian obat berikut ini tidak membatalkan puasa :

1. Tetes mata, tetes hidung dan telinga tetes
2. Semua zat diserap ke dalam tubuh melalui kulit , seperti krim , salep dan plester
3. Obat penyisipan ke dalam vagina, ovula, dan obat cuci vagina
4. Suntikan melalui kulit , otot , sendi , atau vena , dengan pengecualian infus
5. Oksigen dan gas anestesi gas
6. Tablet nitrogliserin ditempatkan di bawah lidah untuk pengobatan angina
7. Obat kumur atau semprot mulut , asal tidak ada yang tertelan ke dalam perut.

Efek dan toksisitas obat dapat bervariasi tergantung waktu pemberian. Hal ini terkait dengan ritme sirkadian dari proses biokimia , fisiologis dan perilaku pasien. Dengan demikian, waktu sirkadian harus diperhitungkan sebagai faktor penting yang mempengaruhi efek obat termasuk efek sampingnya. 

Dengan mempertimbangkan ritme sirkadian tersebut, beberapa obat seperti propanolol, nifedipin, teofilin dan digoksin lebih efektif dikonsumsi saat sahur. Sedangkan obat lain seperti diltiazem, cimetidin dan ibu profen lebih efektif dikonsumsi saat buka puasa. Sehingga untuk penggunaan obat 1x sehari, yang perlu diperhatikan adalah pengaruh waktu sirkadian pemberian yang disesuaikan karakteristik obatnya.

Untuk dua kali dosis harian, dapat diberikan saat sahur dan buka puasa, dengan memperhatikan kisaran jam pemberian yang konsisten. Untuk 3x dosis harian atau lebih, dapat berkonsultasi dengan dokter untuk rekayasa manajemen terapi dengan mengganti formula obat menjadi obat lepas lambat (sustain release) sehingga pemakaian menjadi dosis tunggal harian yang diminum saat sahur atau berbuka. Atau dapat juga mengganti dengan obat lain pada dua kali dosis harian yang dikonsumsi saat sahur atau berbuka.

Puasa juga aman untuk pasien hipertensi serta pasien yang mengonsumsi obat pengencer darah (antikoagulan). Beberapa riset menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan yang disebabkan perbedaan jadwal konsumsi obat antihipertensi di bulan Ramadan, contoh penggantian formula obat hipertensi saat puasa ramadan, adalah penggunaan obat hipertensi kaptopril yang harus diminum 2-3 kali sehari dapat digantikan oleh lisinopril yang digunakan 1x sehari.

Jika tidak bisa diganti, maka penggunaan obat dioptimalkan pada rentang waktu buka puasa hingga sahur, yang dibagi dalam interval waktu tertentu secara konsisten, disesuaikan dengan pola hidup pasien. Dalam hal ini perlu diperhatikan jangan sampai mengganggu waktu istirahat, yang akan berdampak pada penurunan kebugaran sehingga memperburuk kondisi pasien.

Interaksi dengan Asupan Makanan

Kualitas makanan selama makan berbuka puasa juga bisa memiliki pengaruh pada penyerapan beberapa obat. Minuman seperti teh, kopi, dan jus jeruk dapat meningkatkan keasaman lambung, Konsentrasi tinggi lemak dan karbohidrat dalam makanan ini bisa mengubah bioavailabilitas obat. 

Dampak klinis interaksi tersebut dapat menyebabkan penurunan kemanjuran atau meningkatkan efek samping. Sehingga penting untuk diperhatikan aturan minum obatnya, apakah sesudah atau sebelum makan. Beberapa obat baik digunakan sebelum makan karena absorpsinya akan lebih baik pada saat lambung kosong. Sebaliknya, ada obat yang baik diminum setelah makan, karena dapat menyebabkan iritasi lambung atau akan lebih baik penyerapannya bersama makanan. 

Jika tidak diberikan aturan khusus, maka penggunaan obat sebelum makan biasanya dikonsumsi 30 menit sebelum makan. Sementara untuk konsumsi obat setelah makan biasanya sekitar 5-10 menit setelah makan.

Namun perlu diingat, Islam membolehkan umatnya tidak berpuasa jika sakit atau pada lansia. Sebaiknya konsultasikan pada dokter dan tidak memaksakan diri berpuasa jika fisik tidak mengizinkan.

Pustaka

Aadil N, Fassi-Fihri A, Houti I, Benaji B, Ouhakki M, Kotbi S, et al. Influence of Ramadan on the pharmacokinetics of a single oral dose of valproic acid administered at two different times. Methods Find Exp Clin Pharmacol 2000;22: 109-14. [PubMed]

Aslam M, Assad A. Drug regimens and fasting during Ramadan: a survey in Kuwait.Public Health 1986;100: 49-53. [PubMed]

Etemadyfar M. Effect of Ramadan on frequency of seizures. Abstract book, Congress on Health and Ramadan, October 2001. Tehran: Iranian Journal of Endocrinology and Metabolism, 2001: 32.

Recommendations of the 9th Fiqh-Medical seminar "An Islamic View of Certain Contemporary Medical Issues," Casablanca, Morocco, 14-17 June 1997 (www.islamset.com/search/index.html).

Iraki L, Bogdan A, Hakkou F, Amrani N, Abkari A, Touitou Y. Ramadan diet restrictions modify the circadian time structure in humans: a study on plasma gastrin, insulin, glucose, and calcium and on gastric pH. J Clin Endocrinol Metab 1997;82: 1261-73. [PubMed]

Habbal R, Azzouzi L, Adnan K, Tahiri A, Chraibi N. Variations of blood pressure during the month of Ramadan. Arch Mal Coeur Vaiss 1998;91: 995-8. [PubMed]

*) Dr. Keri L Dandan Msi. Apt. dari Pusat Studi Pengembangan Pelayanan Kefarmasian Fakultas Farmasi UNPAD dan pengasuh konsultasi obat dan herba 'Apoteker Sahabat Kita' .

Thanks for reading & sharing Alnindo News

Previous
« Prev Post

Advertisement

alnindo electronics