Home » , , » Media Sosial Jadi Ladang Subur Orang Bergejala Sindrom Munchausen

Media Sosial Jadi Ladang Subur Orang Bergejala Sindrom Munchausen

Posted by Alnindo News on Rabu, 20 Juli 2016


ALNews - Jakarta, Di era elektronik seperti saat ini makin banyak orang-orang menggunakan media sosial sebagai tempat berinteraksi. Dengan makin ramainya pengguna, berbagai fenomena sosial yang unik pun muncul dan salah satunya adalah kecenderungan orang bergejala sindrom Munchausen.

Sindrom Munchausen adalah penyakit mental di mana seseorang rela melakukan hal-hal di luar batas wajar berpura-pura sakit untuk menarik simpati orang lain. Bisa lewat cara berbohong, membesar-besarkan gejala, atau bahkan sengaja membuat sakit diri sendiri.

Contoh kasusnya di media sosial seperti kisah di Facebook tentang Dana Dirr yang dikabarkan meninggal setelah ditabrak pengemudi yang mabuk tahun 2012 lalu. Sang suami bercerita bahwa istrinya saat itu sedang hamil dan tengah mengurus anak mereka yang lain yang mengidap kanker.

Cerita menjadi viral disebarkan oleh orang-orang hanya saja satu masalahnya, itu adalah cerita bohong.

Ahli psikiatri Professor Marc Feldman dari University of Alabama mengatakan yang membedakan orang dengan gejala sindrom Munchausen dengan penipu lainnya adalah mereka menyebar cerita palsu tak untuk mengejar keuntungan ekonomi. Menurut Feldman internet tampaknya telah membuat situasi yang lebih mendukung terhadap terbentuknya sindrom dibandingkan beberapa tahun yang lalu.

"Dulu orang-orang harus pergi ke satu ruang gawat darurat ke ruang gawat darurat berikutnya. Mereka harus mempelajari penyakit dan mencoba tampil otentik saat sedang berpura-pura. Sekarang yang perlu Anda lakukan hanya cukup duduk di rumah dengan piyama, membuat grup pendukung, dan membuat cerita," kata Feldman seperti dikutip dari ABC Australia, Rabu (20/7/2016).

"Sindrom Munchausen menjadi lebih umum dari sebelumnya," lanjut Feldman.

Kasus sindrom Munchausen di internet lebih susah didiagnosa karena kadang sulit dibedakan dengan penipuan untuk mencari laba. Hal ini karena pengidap kemungkinan akan mendapat tawaran bantuan berkat ceritanya dan ia akan enggan atau tak bisa menolaknya karena takut malah akan dicurigai.

Begitu ada uang atau bantuan yang masuk diterima maka kasusnya akan kabur dan polisi bisa melihatnya sebagai penipuan.

"Saat itu terjadi, meski gambaran keseluruhannya jelas merupakan salah satu gejala sindrom Munchausen.... polisi cenderung akan mengambil alih, mengabaikan faktor mengejar simpati dan menyatakan bahwa semua itu adalah penipuan dari awal sampai akhir," kata Feldman.

Thanks for reading & sharing Alnindo News

Previous
« Prev Post

Advertisement

alnindo electronics