Home » » Empat Anak Penggugat Ibunya Tak Mau Bertele-tele Bermediasi

Empat Anak Penggugat Ibunya Tak Mau Bertele-tele Bermediasi

Posted by Alnindo News on Selasa, 20 Maret 2018


ALNEWS - Empat anak penggugat ibunya kini tak mau buang waktu lagi dengan segala macam upaya mediasi. Mereka ingin agar sidang segera dimulai saja. Sebab sudah berkali-kalo adanya upaya mediasi masalah tetap saya buntu.

"Kalau kita menghargai undang-undang, saran mediator, harusnya segera disidangkan supaya enggak bertele-tele," Ujar Tina Yulianti Gunawan, sang pengacara keempat anak penggugat sang ibu, ketika ditemui di Pengadilan Negeri Bandung pada Selasa, 20 Maret 2018.

Tina mengatakan, sejauh ini kliennya sudah memiliki itikad baik untuk menghadiri empat kali mediasi. Begitu juga dengan rencana mediasi hari ini. Namun tetap ia pesimis upaya itu akan menemukan jalan keluar dan kesepakatan, seperti halnya saat mediasi-mediasi sebelumnya.

Para penggugat menyatakan bahwa pada dasarnya tidak ada masalah pribadi dengan ibu mereka. Namun ketika beberapa kali upaya mediasi gagal, tidak ada pilihan lain kecuali melanjutkan proses gugatan dan melaksanakan sidang sampai hakim memutuskannya.

"Tapi kami menggunakan kesempatan yang diberikan mediator. Sudah sulit kalau tetap mengutamakan hasil rapat keluarga. Ya, kami ikuti saja upaya mediator," Ucap Tina.

Berawal penjualan tanah

Cicih, sang ibu digugat perdata senilai Rp1,6 miliar oleh empat anaknya karena ia telah menjual tanah warisan dari sang mendiang ayah mereka (suami Cicih), S Udin. Kemudian Gugatan didaftarkan ke Pengadilan Negeri Bandung, Jawa Barat, Pada 20 Februari 2018.

Tanah sengketa tersebut seluas meter persegi di Jalan Embah Jaksa, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Ai Sukawati dan ketiga saudara lainnya sebagai ahli waris mengaku tak mengetahui prihal penjualan lahan tersebut. Kemudian baru diketahui bahwa lahan yang sebelumnya disewakan tersebut lalu dijual pada tahun 2016.

Para penggugat mengaku telah mengalami kerugian mencapai Rp 670 juta, sesuai dengan rincian harga bangunan dan berikut lahannya. Penggugat juga mengaku kehilangan hak subjektif, yaitu hak atas kekayaan, kehilangan hukum mencapai Rp 1 miliar.

Gugatan perdata berdasarkan pasal 1365 jo pasal 584 jo pasal 2 Undang Undang Nomor 51PRP/1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin yang Berhak atau Kuasanya jo pasal 1471 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Prilaku Durhaka?

Keempat anak penggugat sang Ibu, Ai Sukawati, Dede Rohayati, Aji Rusbandi, dan Ai Komariah, menolak disebut durhaka kepada orang tuanya gara-gara gugatan itu. Sebab gugatan tersebut bermaksud untuk membatalkan jual-beli tanah warisan mendiang ayah mereka, bukan untuk menghukum pidana sang Ibu.

"Intinya klarifikasi dari pihak kami: persoalannya adalah bukan anak durhaka yang menggugat ibu kandungnya. Itu salah besar," kata Tina, saat ditemui setelah sidang di Pengadilan Negeri Bandung pada 27 Februari.

gugatan anak kepada orang tua

Jadi kesimpulan gugatan tersebut adalah berfokus pada pembatalan jual-beli lahan 84 meter persegi yang dimohonkan keempat anak Cicih sebagai ahli waris, kata Tina. Tina berharap pihak Cicih tak salah paham atas gugatan tersebut dan bisa menyikapi proses hukum secara bijaksana. (ase)

Sumber : Viva.co.id

Thanks for reading & sharing Alnindo News

Previous
« Prev Post

Advertisement

alnindo electronics