Home » , » Film Benyamin Biang Kerok 2018 : Kekeliruan Konsep dan Respon yang Buruk

Film Benyamin Biang Kerok 2018 : Kekeliruan Konsep dan Respon yang Buruk

Posted by Alnindo News on Rabu, 07 Maret 2018

benyamin biang kerok Reza vs benyamin

Film komedi Benyamin Biang Kerok (1972) diperankan Benyamin Sueb, merupakan sebuah ekspresi sifat perlawanan manusia. Melalui akal bulus dan kejahilan, sosok Pengky berusaha mengelabui roda nasib yang mewajibkannya jadi orang kecil.

Melalui berbagai cara dilakukan, Pengky berusaha merebut kenyamanan hidup. Tentu dengan cara yang lucu dan komikal. Pesan moral yang didapat dari film ini adalah sebuah kritik keras pada sifat koruptif orang besar di negeri ini.

Suatu ketika Pengky kesal karena terus-terusan mendapatkan sial, kemudian mendatangi peramal sohor bernama Wan Abud. Setelah memeriksa garis tangan Pengky, Wan Abud mengatakan rentetan nasib buruk Pengky adalah akibat kelakuan curang dari dirinya sendiri.

Tak terduga, Pengky menjawab seperti sebuah kritikan keras, sekeras tinju dari Cris John. "Kalau sedot bensin seliter dua liter mah kecil, makan aja Wan, apalagi yang jutaan," sahutnya.

Puluhan tahun paska film itu, Falcon Pictures bersama Hanung Bramantyo dan Reza Rahadian kemudian menciptakan film yang rohnya diresapi dari kisah kejahilan Pengky. Judulnya pun dibuat sama "Benyamin Biang Kerok" (2018).

Kisahnya sedikit berbeda, kalau dulu Pengky (Benyamin) adalah seorang supir yang sok tahu dan jahil. Ia selalu mengerjai majikannya dan berlagak pintar. Dia juga memanfaatkan situasi itu untuk merayu para wanita dengan berpura-pura menjadi orang kaya.

Sementara Pengky (Reza Rahadian) kali ini adalah seorang anak kaya dan agak manja serta tidak punya tujuan hidup. Meski senang berleha-leha rupanya Pengky tetap punya jiwa sosial. Dia terlibat dalam isu ruang bagi orang miskin, perjudian, penggusuran, hingga perdagangan perempuan.

Tapi rupanya, usaha yang dilakukan Falcon "yang katanya sebagai penghormatan untuk sang legenda" justru mendapat respon buruk. Ekspektasi besar pada duet Hanung dan Reza yang beberapa kali berhasil menciptakan film menarik justru berakhir dengan kekecewaan.

Berbagai media memberitakan betapa film ini mencederai akal sehat. Tidak jelas konsep dan arah yang ingin dipublikasikan. Mencapur-aduk antara komedi, fiksi ilmiah, drama romantis, musikal, kritik sosial sehingga membuatnya menjadi sebuah adonan yang tidak sedap dinikmati. Semua hanya tempelan untuk memancing tawa.

"Meski dibungkus konsep mewah, tetap saja garapan Hanung mengingatkan sajian serial televisi kasar dan murahan. Sesuatu yang sebaiknya tidak perlu disaksikan di layar lebar," imbuh Haris Fadli Pasaribu dalam tulisannya di Fick Magazine, sembari membuat tag #sayanguangnya.

Pula isu sosial yang muncul dalam film hanya sebagai penghias biar terlihat asyik. Namun semuanya dangkal saja. Sementara nama Benyamin, tidak lebih sekedar upaya menggaet banyak penonton.

"Seharusnya film ini tidak diberi judul 'Benyamin Biang Kerok', sebab sepanjang film saya tidak melihat sama sekali upaya menghidupkan karakter Benyamin yang diperankan Reza. Yang saya lihat adalah sosok Reza yang berkumis lebat dengan ambisi menyelamatkan pujaan hatinya. Mungkin bisa diberi judul 'Reza Rahadian: Si Kumis Lebat dan Perjuangan Cintanya?" tulis M Faisal Reza Irfan dalam ulasannya di Tirto.id (03/03/2018).

Lalu dimana sebenarnya letak kekeliruan film ini. Sebuah kritik dari sejarawan Betawi, JJ Rizal, boleh kita timbang—meski tampak sedikit sadis:

“Wartawan: Bang, minta pendapatnya dong soal pelem Benyamin Biang Kerok, kritik gitu, ada salahnya enggak?

Saya: Salahnya?

Wartawan: Iya, ada salahnya enggak bang?

Saya: Salahnya dibuat”.

Thanks for reading & sharing Alnindo News

Previous
« Prev Post

Advertisement

alnindo electronics